Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Santunan 700 Anak Jadi Penopang Harapan

Di banyak kota, anak yatim sering hadir sebagai angka dalam laporan sosial. Pagi itu di Semarang, mereka hadir sebagai wajah—datang bersama pendamping, duduk di antara mahasiswa, lalu dipanggil satu per satu untuk menerima santunan.

Ketua panitia, Prof. Nur Khoiri, menyampaikan bahwa santunan tahun ini diberikan kepada 700 anak yatim piatu yang berasal dari 52 panti asuhan di Semarang dan sekitarnya. Ia menekankan bahwa bantuan itu lahir dari gotong royong berbagai pihak, bukan dari satu sumber tunggal.

“Pemberian santunan tahun ini diberikan kepada 700 anak yatim piatu… dari 52 panti asuhan di wilayah Semarang dan sekitarnya,” kata Nur Khoiri saat laporan panitia.

Ia juga menyebut sebagian paket santunan dihimpun dari donasi internal sivitas, menunjukkan bagaimana bantuan sosial kerap bertahan bukan karena pidato besar, melainkan karena iuran kecil yang rutin dikumpulkan.

“Sejumlah 333 [paket] terhimpun dari dosen dan karyawan…” ujarnya.

Di titik ini, makna Nuzulul Quran terasa turun ke urusan paling konkret: siapa yang hari ini dibantu, dari mana dukungan datang, dan bagaimana komunitas pendidikan memposisikan diri—bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai tetangga yang ikut menanggung beban.

Santunan itu menjadi pengingat bahwa akses hidup layak sering dimulai dari hal sederhana: ada orang dewasa yang mengupayakan anak-anak tetap punya pegangan, meski orang tua mereka sudah tidak ada.

Posting Komentar

0 Komentar