Semarang — Balairung Universitas PGRI Semarang pagi itu dipenuhi mahasiswa ketika acara dibuka dengan pengingat sederhana tentang makna Nuzulul Quran. Di ruang yang menampung ribuan orang itu, pesan pertama yang muncul bukan tentang seremoni, melainkan tentang sumber nilai yang membentuk cara manusia hidup.
Rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Sri Suciati mengingatkan bahwa peristiwa turunnya Al-Qur’an bukan sekadar catatan sejarah keagamaan. Ia merupakan titik awal hadirnya petunjuk yang mengarahkan manusia memahami kehidupan.
“Hari ini kita memperingati turunnya wahyu pertama Al-Qur’an, Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5, kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril di Gua Hira,” ujarnya di hadapan dosen, mahasiswa, dan anak-anak dari berbagai panti asuhan.
Ia menyinggung bahwa peristiwa yang diyakini terjadi pada malam 17 Ramadan itu telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam untuk diingat setiap tahun. Namun maknanya tidak berhenti pada peringatan.
Menurutnya, hubungan manusia dengan Al-Qur’an seharusnya hadir dalam praktik sehari-hari.
“Dengan membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, hati menjadi tenang, akidah semakin kokoh, dan kita mendapat petunjuk dalam menjalani kehidupan,” kata Sri Suciati.
Di tengah mahasiswa yang memenuhi balairung, pesan itu terasa relevan dengan dunia kampus: ilmu pengetahuan tumbuh, tetapi arah hidup tetap membutuhkan nilai. Bagi banyak mahasiswa yang hadir pagi itu, pengingat tersebut datang sebelum ceramah, sebelum santunan, bahkan sebelum acara utama dimulai—seolah menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi dari semua kegiatan hari itu.

0 Komentar