Peringatan Nuzulul Quran di Balairung Universitas PGRI Semarang tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga ruang refleksi bagi dunia pendidikan. Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah Dr. H. Muhdi, S.H., M.Hum. mengajak guru, mahasiswa, dan civitas akademika untuk memahami kembali makna perintah pertama dalam Al-Qur’an, yakni Iqra.
Menurut Muhdi, kata Iqra tidak cukup dimaknai sekadar membaca teks Al-Qur’an. Perintah tersebut juga mengandung makna membaca fenomena alam dan kehidupan sebagai sumber pengetahuan.
“Iqra tidak hanya membaca ayat-ayat kauliyah, tetapi juga ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta,” ujar Muhdi dalam sambutannya.
Ia menilai pemahaman tersebut sangat relevan bagi dunia pendidikan. Ilmu pengetahuan yang berkembang di perguruan tinggi dan sekolah pada dasarnya merupakan upaya manusia membaca dan memahami alam.
Muhdi juga mengingatkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata. Menurutnya, ilmu harus melahirkan kepedulian sosial dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi kegiatan santunan anak yatim yang diselenggarakan PGRI Jawa Tengah bersama Universitas PGRI Semarang. Kegiatan tersebut dinilai sebagai contoh nyata bagaimana nilai keagamaan dan pendidikan dapat diwujudkan dalam tindakan sosial.
“Ilmu yang tinggi harus disertai kepedulian terhadap sesama,” katanya.
Bagi Muhdi, peringatan Nuzulul Quran bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momentum untuk mengingat kembali bahwa pendidikan, ilmu pengetahuan, dan nilai kemanusiaan harus berjalan bersama.

0 Komentar