Pagi di SD Islam Ta’allumul Huda, Brebes, terasa lebih hidup selama Ramadan 1447 Hijriah. Sejak anak-anak memasuki gerbang sekolah, suasana religius langsung terasa. Mereka datang lebih tertib, berjabat tangan dengan guru, lalu berbaris rapi di halaman untuk memulai hari dengan ikrar dan doa bersama.
Indra Gautama, guru di sekolah tersebut, menggambarkan Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi proses membangun karakter siswa. “Kami ingin membentuk anak Indonesia yang cerdas, beriman, dan bertakwa. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk itu,” ujarnya.
Kegiatan pagi dimulai dengan ikrar yang dibacakan bersama. Anak-anak berdiri khidmat, menguatkan komitmen keimanan sejak awal hari. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an. Suara bacaan yang lirih namun serempak mengisi halaman sekolah, menciptakan suasana yang tenang dan penuh makna.
Tidak berhenti pada kegiatan spiritual, sekolah juga mengarahkan siswa untuk tetap aktif dan produktif selama berpuasa. Ketika rasa lapar mulai terasa, guru mengajak siswa mengisi waktu dengan membaca buku. “Supaya tidak fokus pada lapar, kita arahkan mereka ke kegiatan yang bermanfaat,” kata Indra. Cara ini sekaligus menanamkan kebiasaan literasi yang tetap berjalan meski dalam kondisi berpuasa.
Di sisi lain, nilai sosial juga menjadi bagian penting dalam kegiatan Ramadan. Siswa diajak terlibat langsung dalam kegiatan berbagi, seperti pembagian takjil, zakat fitrah, hingga sembako kepada warga sekitar. Kegiatan ini tidak hanya melatih kepedulian, tetapi juga memperkenalkan makna berbagi sejak dini.
Dalam salah satu kegiatan pembagian sembako, siswa tampak antusias sekaligus belajar berempati. Mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat. Doa-doa sederhana pun mengalir, seperti harapan agar penerima bantuan diberkahi. Momen ini menjadi pembelajaran nyata yang tidak ditemukan di buku pelajaran.
Indra menilai, pembelajaran seperti ini lebih membekas dibandingkan teori semata. “Anak-anak belajar langsung dari pengalaman. Mereka memahami bahwa Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi juga tentang berbagi dan peduli,” ujarnya.
Menariknya, sikap empati juga terlihat dalam hal-hal sederhana. Ketika ditanya mengapa tidak jajan, salah satu siswa menjawab karena sedang berpuasa. Siswa lain bahkan menambahkan alasan yang lebih dalam: kasihan pedagang yang sedang mencari penghasilan untuk Lebaran. Jawaban itu menunjukkan tumbuhnya kesadaran sosial yang mulai terbentuk.
Bagi sekolah, Ramadan menjadi ruang pendidikan yang utuh—menggabungkan nilai spiritual, intelektual, dan sosial. Kegiatan yang dilakukan tidak dibuat rumit, tetapi konsisten dan bermakna. Dari berjabat tangan, tadarus, membaca buku, hingga berbagi dengan masyarakat, semuanya dirancang untuk membentuk karakter siswa.
Di akhir kegiatan, suasana kembali hangat dengan interaksi antara siswa dan guru. Ramadan di SD Islam Ta’allumul Huda bukan hanya tentang program sekolah, tetapi tentang kebiasaan baik yang dibangun bersama. Dari sini, pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan yang akan dibawa anak-anak hingga dewasa.

0 Komentar