Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ramadhan, Perahu dan Layar Ponsel

Sumber: Instagram @@dwi.putri.septiani

Ramadan 1447 Hijriah membawa makna yang berbeda bagi Dwi Putri Septiani, S.Pd., guru SDN Ujungalang 03 di wilayah Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan perahu untuk mencapai sekolah. Perjalanan yang sunyi di atas perairan itu justru menjadi ruang refleksi tentang makna puasa di tengah kehidupan digital.

“Pagi ini saya harus menyeberang lagi menuju Kampung Laut, sebuah tempat yang membuat saya belajar banyak hal tentang arti hidup yang sebenarnya,” kata Dwi. Di atas perahu, ia melihat kebiasaan yang sama: orang-orang sibuk dengan ponsel, menggulir layar tanpa henti. Fenomena ini membuatnya berpikir ulang tentang esensi Ramadan.

Menurutnya, puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus. Tantangan yang lebih sulit justru mengendalikan diri dari kebiasaan digital yang berlebihan. “Kita puasa makan, tapi tidak puasa media sosial. Pahala yang kita kumpulkan bisa hilang karena hal-hal yang tidak perlu,” ujarnya, mengutip pesan yang sering ia sampaikan kepada diri sendiri.

Pengalaman itu mendorong Dwi melakukan perubahan kecil. Selama perjalanan, ia memilih mematikan ponsel dan menyimpannya. Ia menggantinya dengan membaca Al-Qur’an atau sekadar menikmati pemandangan laut. Hasilnya terasa berbeda. “Ternyata melihat laut itu lebih menenangkan daripada melihat komentar di internet. Hati jadi lebih sejuk,” ungkapnya.

Perubahan sederhana tersebut memberi dampak yang lebih luas dalam cara ia memaknai Ramadan. Ia merasa memiliki waktu untuk berdialog dengan diri sendiri, sekaligus memperkuat hubungan spiritual. Bagi Dwi, inilah inti Ramadan yang sering terlewat: pengendalian diri secara menyeluruh, termasuk dalam penggunaan teknologi.

Setibanya di sekolah, ia disambut oleh siswa-siswanya yang hidup sederhana namun penuh semangat. Di ruang kelas, Dwi tidak hanya mengajar pelajaran akademik, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan. “Menjadi guru bukan hanya soal mengajar matematika atau bahasa, tetapi juga memberi contoh,” katanya.

Ia mengajak siswa untuk memahami bahwa kehidupan tidak hanya terjadi di layar ponsel. Dunia nyata menawarkan lebih banyak makna yang perlu dijalani. Dalam setiap kesempatan, ia menekankan pentingnya menggunakan teknologi secara bijak. “Teknologi itu bagus kalau kita yang mengaturnya, bukan kita yang diatur oleh teknologi,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di bulan Ramadan. Dwi mendorong siswa menggunakan ponsel untuk hal-hal bermanfaat, seperti mencari materi pelajaran atau berbagi pesan kebaikan. Setelah itu, ia mengingatkan agar ponsel disimpan kembali dan fokus pada aktivitas nyata.

Baginya, Ramadan adalah latihan mengendalikan diri secara utuh. “Nikmat Ramadan itu terasa saat kita bisa mengendalikan diri, bukan hanya perut, tetapi juga jempol kita,” ujarnya. Ia merasakan perubahan dalam dirinya: pikiran lebih jernih, hati lebih tenang, dan ibadah terasa lebih bermakna.

Melalui pengalaman sehari-hari di perjalanan dan di kelas, Dwi ingin mengajak lebih banyak orang untuk memaknai Ramadan secara lebih dalam. “Mari kita jaga pahala puasa kita. Jangan sampai habis karena layar ponsel,” pesannya.

Di tengah keterbatasan geografis Kampung Laut, justru lahir pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman. Dari perahu sederhana hingga ruang kelas kecil, Ramadan menjadi ruang refleksi tentang bagaimana manusia bisa kembali mengendalikan diri—di dunia nyata maupun digital.

Posting Komentar

0 Komentar