SEMARANG (14/3) — Peran guru sebagai pendamping sekaligus penguat perkembangan siswa menjadi sorotan dalam webinar pendidikan yang digelar APKS Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Padmi Dhyah Yulianti, dosen Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Semarang, dengan moderator Dr. Katarina Herwanti.
Webinar menekankan pentingnya peran guru sebagai sistem pendukung bagi peserta didik, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga sosial dan emosional. Melalui pendekatan yang dibahas, guru didorong menghadirkan lingkungan belajar yang lebih peduli dan berdampak terhadap perkembangan siswa.
Dalam pemaparannya, Padmi menyoroti tantangan utama dalam pendidikan, yakni membangun konsistensi perilaku siswa. Ia mencontohkan kasus kebiasaan belajar yang sulit bertahan jika hanya mengandalkan aturan atau fasilitas. “Perubahan perilaku tidak cukup dengan paksaan. Yang paling penting adalah kesadaran dari dalam diri,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan yang terbentuk karena tekanan cenderung tidak bertahan lama. Siswa hanya patuh ketika diawasi, namun kembali pada kebiasaan lama saat kontrol hilang. Karena itu, guru perlu menggeser pendekatan dari kontrol menjadi pembentukan kesadaran internal.
Ia menjelaskan bahwa langkah awal yang bisa dilakukan adalah membangun kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Kebiasaan sederhana tersebut, jika dijalankan terus-menerus, akan membentuk karakter dalam jangka panjang. “Karakter tidak dibentuk dari keputusan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang,” kata Padmi.
Selain itu, guru juga perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki latar belakang berbeda, termasuk pengaruh keluarga dan lingkungan. Kebiasaan yang terbentuk di rumah seringkali terbawa ke sekolah, sehingga pendekatan pendidikan tidak bisa disamaratakan.
Dalam diskusi, peserta webinar mengangkat berbagai persoalan nyata di sekolah, seperti perilaku agresif siswa, kedisiplinan, hingga ketergantungan pada gawai. Padmi menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak bisa dilepaskan dari perkembangan era digital yang memengaruhi pola perilaku anak.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi perlu dikendalikan secara bijak. Tanpa pengawasan, penggunaan gawai berpotensi memicu masalah, mulai dari kecanduan hingga gangguan perilaku. Guru dan orang tua, menurutnya, harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi.
“Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Karena itu, guru dan orang tua harus menjadi contoh, bukan hanya memberi aturan,” ujarnya.
Selain konsistensi, aspek komunikasi juga menjadi perhatian dalam webinar tersebut. Guru diharapkan membangun hubungan yang lebih empatik dengan siswa. Sebelum memberikan koreksi, guru perlu menciptakan koneksi agar siswa merasa dipahami.
Padmi menekankan bahwa komunikasi yang baik dapat membuka ruang bagi perubahan perilaku. Sebaliknya, tanpa hubungan yang kuat, siswa cenderung defensif dan menolak arahan. “Bangun koneksi terlebih dahulu, baru lakukan koreksi,” katanya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman antar peserta, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Berbagai strategi yang telah diterapkan di sekolah dibahas sebagai upaya membangun karakter siswa yang lebih baik.
Webinar ditutup dengan penegasan bahwa peran guru tidak berhenti pada penyampaian materi. Lebih dari itu, guru bertanggung jawab menanamkan nilai dan kebiasaan positif yang akan membentuk masa depan siswa.
Melalui kegiatan ini, PGRI dan pemangku kepentingan pendidikan berharap guru mampu memperkuat perannya sebagai inspirator yang menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar pengontrol perilaku siswa.

0 Komentar