Semakin banyak sekolah menerima papan interaktif digital, tetapi tidak semua guru merasa siap menggunakannya di kelas. Celah inilah yang coba dijembatani PGRI Jawa Tengah melalui pelatihan batch Januari dengan tema Pemanfaatan Papan Interaktif Digital yang digelar secara daring, Kamis, 22 Januari 2026.
Pelatihan ini menyoroti penggunaan interactive flat panel (IFP) sebagai alat belajar, bukan sekadar pengganti papan tulis. Perangkat berbasis Android dengan layar sentuh beresolusi tinggi itu memungkinkan guru menulis, menggambar, membuka aplikasi pembelajaran, hingga berdiskusi langsung bersama siswa secara real-time. Konektivitas internet membuat materi dapat diperluas tanpa berpindah perangkat.
Narasumber pelatihan, Kelik Yan Pradana, memandu peserta memahami fungsi dasar hingga praktik penggunaan IFP di kelas. Ia menekankan bahwa tantangan utama bukan pada kecanggihan perangkat, melainkan keberanian guru mencoba dan menyesuaikannya dengan kebutuhan belajar siswa, terutama di jenjang PAUD dan SD yang mendominasi peserta.
Moderator pelatihan, Saptono Nugrohadi, menegaskan bahwa fokus pelatihan tidak berhenti pada pengenalan alat. Menurutnya, keberhasilan penggunaan papan interaktif justru ditentukan oleh bagaimana teknologi itu masuk ke strategi mengajar harian.
“Yang paling penting bukan sekadar tahu fitur IFP, tetapi bagaimana kita mengaplikasikannya di kelas masing-masing. Perangkat ini baru bermakna kalau benar-benar membantu guru dan berdampak pada proses belajar siswa,” ujar Saptono saat membuka sesi.
Pelatihan yang dirancang dalam empat pertemuan ini mengajak peserta langsung mencoba: mulai dari menulis dan menghapus dengan sentuhan tangan, memasang aplikasi pembelajaran dari Play Store, hingga menghubungkan laptop ke papan interaktif tanpa kabel. Peserta juga diminta membawa pengalaman kelas masing-masing sebagai bahan diskusi, bukan hanya menyimak paparan.
Dengan pendekatan tersebut, PGRI Jawa Tengah mendorong guru melihat papan interaktif digital sebagai alat pedagogik yang fleksibel. Bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk membuat pembelajaran lebih hidup, relevan, dan dekat dengan keseharian siswa.

0 Komentar