Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

SAJAK DIGITAL: Ramadan Pak Ni’am

Sumber: Instagram @mufarrihunniam

Pagi Ramadan di SMA Negeri 1 Donorojo, Jepara, terasa berbeda bagi Mufarih Ni’am, S.Pd. Di tengah rutinitas sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia, ia memilih jalan sederhana: menulis. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk murid-muridnya. Setiap pagi, sebelum aktivitas belajar dimulai, ia mengirimkan renungan singkat—dua hingga tiga paragraf—yang menyapa layar gawai para siswa.

“Di era digital, kata-kata menyebar sangat cepat. Maka mari kita sebarkan kata-kata baik,” ujarnya. Prinsip itu menjadi pijakan Ni’am dalam memaknai Ramadan, bukan sekadar bulan ibadah, tetapi ruang pendidikan yang lebih luas—melampaui kelas dan buku teks.

Bagi Ni’am, kebiasaan membaca siswa telah berubah. Ceramah panjang tak lagi efektif. Ia menyadari murid-muridnya lebih dekat dengan teks singkat, padat, dan menyentuh. Dari situlah lahir “sajak digital”, renungan harian yang sederhana namun mengena. “Satu menit membaca pun cukup, asal bermakna,” katanya.

Upaya itu tak berhenti pada tulisan. Ia mengajak siswa terlibat aktif melalui podcast sederhana bertajuk Sajak Digital Ramadan. Dalam ruang itu, siswa membaca karya mereka sendiri—cerpen, puisi, dan refleksi pribadi. Salah satu karya yang dibacakan berjudul Secangkir Teh untuk Ibu, menggambarkan suasana sahur yang hening namun penuh emosi.

“Detailnya terasa sekali. Dari suara sendok sampai suasana dapur, jadi kebayang sosok ibu,” kata salah satu siswa yang ikut dalam sesi diskusi. Siswa lain menambahkan, “Pas dibacakan, rasanya ikut terenyuh. Seolah melihat sendiri.”

Bagi Ni’am, momen seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar penilaian angka. Ia melihat bagaimana kata-kata mampu menghidupkan empati, menghubungkan pengalaman pribadi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam salah satu renungannya, ia menulis, “Ramadan datang mengusap kepala kita dengan sayang, seolah berkata masih ada waktu untuk jadi lebih baik.”

Kegiatan ini juga menjadi bentuk pembelajaran kritik sastra yang hidup. Sebelum karya ditampilkan, siswa diajak saling memberi masukan. Diskusi berlangsung santai, namun tetap terarah. Ni’am menyebutnya sebagai latihan berpikir sekaligus belajar menghargai karya orang lain.

Lebih jauh, ia memandang dakwah di era digital tidak harus selalu formal. “Ini cara sederhana berdakwah diam. Lewat kata-kata, lewat karya anak-anak,” ujarnya. Ia percaya pesan kebaikan akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian.

Ramadan, bagi Ni’am, bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga momentum mendidik karakter. Ia ingin siswa belajar bahwa kebaikan bisa dimulai dari hal kecil—dari menulis, membaca, dan berbagi.

“Belajar itu tidak harus di kelas. Di mana saja kita bisa belajar dan mengajarkan kebaikan,” katanya.

Dari ruang sederhana di Donorojo, Jepara, sajak-sajak itu terus mengalir. Menyusuri layar ponsel, mengetuk hati para siswa, dan perlahan membentuk kesadaran bahwa di tengah derasnya arus digital, kata-kata baik tetap punya tempat untuk tumbuh dan menyebar.

Posting Komentar

0 Komentar